Kebenaran berpihak pada kejujuran


Jumlah kelulusan sebagai tolak ukur kemajuan pendidikan di Indonesia perlu dikaji ulang lagi. Lulus itu macam-macam jalannya. Bukan bermaksud su’udzhon, berbagai soal-soal UN yang pernah dikaji di Reportase Investigasi di TransTV beberapa lalu sudah menjadi bukti bahwa “apapun jalannya, yang penting demi kelulusan.”

Bapak Pembantu Dekan I, SUhaini M. Saleh pernah berujar tentang pendidikan di Jogja, “Jogja itu kota paling jujur.”, ketika membicarakan tentang presentase ketidaklulusan yang miris di Jogja. Ternyata kejujuran itu terbukti kebenarannya. Kalau Pendidikan di Indonesia buruk, ya jujur aja. Kalau nggak bisa lulus, ya jujur aja nggak lulus.Kalau nggak bisa ngerjain soal, ya jujur aja. Cari jalan yang benar, bukan cari jalan yang gampang.

Eksternal:


Hasil SNMPTN Perlu Dicermati Serius

Ilustrasi: DI Yogyakarta dan DKI Jakarta, yang nilai rata-rata UN-nya rendah, justru paling banyak siswanya yang diterima di PTN lewat jalur SNMPTN.

JAKARTA, KOMPAS.com — Hasil seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) yang berbanding terbalik dengan hasil ujian nasional (UN) sepantasnya dicermati secara lebih serius. Apalagi jika nilai UN akan dijadikan satu-satunya pertimbangan masuk perguruan tinggi negeri.

Soal-soal yang dibuat untuk UN dan SNMPTN fungsinya jelas berbeda.
— Hamid Hasan

“Harus dievaluasi secara cermat, agar jangan sampai merugikan calon mahasiswa,” kata pakar evaluasi pendidikan, Hamid Hasan, Senin (19/7/2010) kemarin.

Seperti diberitakan, siswa di Daerah Istimewa Yogyakarta dan DKI Jakarta, yang nilai rata-rata UN-nya rendah, justru paling banyak diterima di PTN lewat jalur SNMPTN. Sebaliknya di Bali, yang nilai rata-rata UN-nya tertinggi, tingkat keberhasilan siswa masuk PTN justru sangat rendah.

Menurut Hamid, model soal yang diujikan dalam UN dan SNMPTN memang tidak sama. Soal UN lebih banyak bersifat menguji hasil belajar siswa. Adapun soal-soal SNMPTN berupa tes prediktif yang memprediksi keberhasilan seseorang ketika belajar di PTN.

“Jadi, secara teori, keduanya jelas tidak terkait. Soal-soal yang dibuat untuk UN dan SNMPTN fungsinya jelas berbeda,” ujarnya.

Oleh karena itu, lanjut Hamid, rencana pemerintah menggunakan hasil UN sebagai satu-satunya persyaratan masuk ke PTN pada tahun 2012 justru sangat berbahaya jika menggunakan model soal sekarang. Akan lebih baik apabila PTN merancang tes khusus untuk masuk PTN yang tidak berbentuk tes hasil belajar, tetapi tes prediktif atau attitude test.

“Dalam teori pendidikan, tes UN tidak bisa digunakan untuk masuk ke PTN karena nature-nya memang berbeda,” ujarnya. (LUK)

Advertisements

About bemfbsuny

BEM FBS adalah Badan Eksekutif Mahasiswa di Fakultas Bahasa dan Seni Yogyakarta. BEM FBS berpusat di Gedung Pusat KEgiatan Mahasiswa (PKM), Kompleks FBS, Karangmalang, Yogyakarta
This entry was posted in Berita and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s