Menyadarkan Mahasiswa Era 2000-an



”Hidup Mahasiswa Indonesia! Hidup Mahasiswa Indonesia!”

”Kalianlah agen perubahan!”

”Bangkitlah pembawa peradaban baru!”

”Kita di sini karena Rakyat Indonesia!”

Pada Mei 1998, kata-kata itu selalu dikoarkan berapi-api oleh mahasiswa. Hingga kini, semangat itu selalu ditularkan di saat OSPEK agar setiap generasi mahasiswa merasakan semangat revolusioner dari pahlawan reformasi yang menorehkan sejarah gemilang bagi bangsa ini.Teriakannya menaikkan adrenalin dan menjadi euphoria seolah-olah menjadi mahasiswa adalah sebuah kebanggaan dan kemenangan. Semangat itu menggetarkan dinding GOR UNY. Namun, teriakan-teriakan itu tidak cukup menjamin dapat menggetarkan dinding hati mahasiswa.

Ketika pertama kali mendengar teriakan: ”Kalianlah pembawa peradaban baru!” sekilas pasti ada pertanyaan di benak, Peradaban seperti apa sih yang akan kami bawa?;  ”Kalianlah agen perubahan!” Memangnya Perubahan apa yang menjadi tugas kami?; Hidup Mahasiswa Indonesia!” ”Ya, kami mahasiswa Indonesia, lalu apa hebatnya? Lalu jawaban skeptimisme pun muncul ketika diteriakkan ”Kita di sini karena Rakyat Indonesia!”; Well, kita di sini karena Orang Tua Indonesia! Terpotongnya informasi penting di setiap teriakan membuat teriakan itu hanya menjadi lip service dan menggantung jawaban saja. Dan teriakan itu belum cukup menghentakkan maba seyogyanya untuk mengerti akan arti menjadi mahasiswa. Input teriakan tersebut hanya memberi arti tentang karakter mahasiswa yang memang dikenal berjuang dengan melakukan aksi turun ke jalan. Bila ada permasalahan bangsa, karakter mahasiswa sebagai sang agen perubahan menuntut solusi yang umumnya kontroversial dan—maksimal—melakukan solusi paling umum, ”Turunkan presiden! Turunkan Presiden!”.

Ketika hadir dalam seminar yang membicarakan format baru gerakan mahasiswa, penulis menyaksikan diri bahwa gerakan mahasiswa sekarang hanyalah format lama. Ketika pembicara dari ICW menerangkan tentang kondisi Indonesia menghadapi CAFTA lengkap dengan data grafiknya, seorang mahasiswa beralmamater bertanya (lebih tepatnya berteriak) pada pembicara, ”Mengapa Pemerintah membiarkan hal itu terjadi? Mengapa pemerintah tidak berpihak pada rakyat?!”. Berikutnya, seorang mahasiswa yang hanya berbusanakan kemeja dan celana hitam, dengan suara tenang walaupun tidak bisa mengontrol badannya yang gemetaran, mengajukan pertanyaan: ”Menurut bapak, barang-barang di Indonesia seperti apa ya, yang bersaing untuk diimpor di Cina?” Dua jenis pertanyaan yang kontras ini menggambarkan dua karakter mahasiswa: Yang masih diwarisi karakter feodal dan yang visioner. Gerakan mahasiswa sekarang jangan lagi terlalu berkaca pada masa kejayaan kekuatan mahasiswa 1998 yang lebih condong untuk melakukan aksi demi menuntut perubahan. Seperti yang diutarakan oleh Sosiolog UGM, Ari Sutjito, ”Era mahasiswa angkatan 2000-an adalah mahasiswa yang memberikan solusi, bukan menuntut solusi.”

Kebebasan berkspresi sudah diagung-agungkan di negeri. Jadi mahasiswa tidak perlu mencari identitas lagi untuk menunjukan eksistensi seperti pada era 1998-an. Mahasiswa era sekarang harus mengambil angle baru untuk mencari format gerakan mahasiswa pun berbeda. Sebagai kaum elite intelektual, mahasiswa harus berbeda dengan gaya kebanyakan.  Bila ada sekumpulan mahasiswa yang turun ke jalan dengan berbagai spanduk dan spandeknya, apa bedanya dengan demo aksi buruh atau aksi ibu-ibu? Tidak terkejut bila aksi damai mahasiswa pun belum cukup membuat pemerintah mengubah gerak. Mahasiswa yang aksi jalan hanya menggunakan doktrin, sebagai contoh, tujuh tuntutan, turunkan bla-bla-bla dan sebagainya. Mahasiswa harus memiliki data dan solusi agar pukulan lebih kuat. Tidak cuma menuntut perubahan. Bila mahasiswa melakukan kegiatan dalam organisasi, sebagai contoh, lomba fotografi, lomba kepenulisan, dan pameran, apa bedanya dengan kepanitiaan pada umumnya dan sebuah event organizer? ”Bentuklah kegiatan yang memiliki fungsi guna bagi masyarakat lalu gunakan keilmuan yang dimiliki untuk dekat dengan masyarakat dan didengar oleh birokrasi.”Ari Sutjipto berresolusi. Sebagai contoh, suatu waktu sekelompok kepanitiaan di UIN Sunan Kali Jaga mengadakan lomba mural namun dengan tema ”menolak budaya korupsi.”. Keterampilan untuk berkata-kata dan grafis ditampilkan di sini. Efeknya, masyarakat pun tertarik dan mendukung kegiatan tersebut (begitu juga sponshorship). Tidak menutup kemungkinan pelaku korupsi tersindir pun dengan gambar-gambar tersebut. Jangan hanya berkoar hidup ”Mahasiswa Indonesia!” Dan tentu saja, ”Mahasiswa Profetik!” Bila tidak ada isu yang dibawa untuk menjadi jalan keluar.

Advertisements

About bemfbsuny

BEM FBS adalah Badan Eksekutif Mahasiswa di Fakultas Bahasa dan Seni Yogyakarta. BEM FBS berpusat di Gedung Pusat KEgiatan Mahasiswa (PKM), Kompleks FBS, Karangmalang, Yogyakarta
This entry was posted in Rapat-merapat, Teriakkan Bahasamu!, Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s